The Truth Seeker Media
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Fiksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2012

Cerita Sebuah Surat dari Penjara


Pada akhirnya, divonislah Effendi Samawi tiga tahun kurungan penjara tanpa ada pembelaan atau peninjauan kembali karena memang ia tidak memiliki pengacara atau kuasa hukum untuk itu dan biaya juga  merupakan salah satu kendala yang ia hadapi untuk sekedar menyewa lawyer atau advokat murahan. Pihak keluarga hanya bisa pasrah mendengar keputusan hakim, meski di sudut hati mereka yang terdalam tentu terselip rasa ketidakadilan sama sekali. Raut muka Effendi terlihat begitu tegar, hanya ada senyum simpul di wajah pria yang menjadi tulang punggung bagi istri dan ketiga orang anaknya. Hal itu pulalah yang membuat keluarganya bisa menerima keputusan hakim renta yang memutar-balikkan fakta.
Cerita dimulai beberapa tahun lalu ketika ia menjadi seorang debt collector pada sebuah Bank swasta, awalnya pekerjaan tersebut sangat ia cintai karena sederhana dan penghasilan yang ia dapat pun bisa dibilang cukup untuk menghidupi keluarganya. Namun lambat laun pekerjaan yang ia cintai itu perlahan mulai mencekik dirinya hingga pada akhirnya entah darimana asal-usulnya  ia dilaporkan oleh perusahaan tempatnya bekerja sendiri karena dituduh menggelapkan atau bekerjasama dengan salah satu nasabah mengambil uang perusahaan sebesar 158 juta rupiah. Tanpa bisa berargumen dan beralibi Effendi pun langsung diciduk di rumahnya di kawasan sawah besar.
Dua minggu kemudian di dalam penjara Effendi terus mengingat-ingat kejadian tersebut, sesuara narapidana yang satu kamar dengannya membuyarkan semua memori yang telah tertata rapi di rongga kepalanya.
“Heh..luh anak baru! Kenapa luh bengong aja? Enggak mau di sini luh?! Emang luh pikir gue mau !? Hahaha….”, ucapnya dengan keras.
 “Saya enggak seharusnya ada di sini bang..” , jawabnya sedikit berbisik.
“BANGSAT..!! Gue juga enggak seharusnya ada di sini!! Luh tau?! Gue ditangkep cuma gara-gara nongkrong di emperan depan stasiun senen! Disangka maen judi sambil mabok putaw gue! Anjing!”. Sanggahnya dengan berapi-api.
Mendengar ceritanya Effendi pun kaget sambil terus merenungkan apa yang ada di dalam pikirannya. Teman satu kamarnya tetap saja bicara tapi tak ia gubris karena ia langsung tertidur tepat di tempat tidur yang berada di atas tempat tidur teman satu kamarnnya yang banyak omong itu. Karena di dalam sel yang ia tempati hanya terdapat satu buah tempat tidur dengan dua rangkap, saling membawahi satu dengan lainnya.
Dalam tidurnya Effendi  bermimpi bertemu dengan sesorang yang menaiki kuda berwarna hitam dengan jubah sirah lengkap dengan pedangnya yang panjang. Pria berjubah itu pun berhenti di hadapannya kemudian turun dari kuda hitam yang ia tunggangi sepanjang perjalanan. Perlahan pria berjubah tersebut melepaskan jubah yang melekat rapat dengan tubuhnya kemudian memberikannya kepada Effendi. Effendi yang tidak tahu apa-apa pun menurut saja dan menerimanya tanpa banyak tanya. Tak lupa pria tersebut juga memberikan pedang dan kuda hitam yang penampakannya tegap dan arogan.  Belum sempat berucap pria itu menghilang sekedipan. Kemudian dalam jejentik perjalanan di alam mimpi, Effendi bertemu dengan wanita cantik bergaun transparan dengan mata tertutup kain hitam dan di tangan sebelah kirinya terdapat sebuah neraca sejenis timbangan sedangkan pedang ada di tangan kanan wanita tersebut. Effendi bertanya-tanya dalam hatinya, sampai wanita itu jatuh tersungkur dengan darah di sekujur tubuhnya. Darah pun keluar dari mulut, hidung, mata, telinga, kuku hingga pori-pori di setiap kulitnya. Kemudian tanpa bisa berlogika wanita berdarah-darah itu pun menguap mengudara. Lagi-lagi Effendi menjadi bingung dan bertanya-tanya. Namun sebelum wanita itu melebur mengudara Effendi mendengar sayup-sayup wanita itu bicara “Hukumlah hukum.. Adili keadilan.. ”.  Belum sempat ia berpikir, ia tiba-tiba terbangun dari tidur dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat dan wajahnya pun pucat. Ia lihat teman satu kamarnya belum juga tertidur, hanya duduk diam menerawangi setiap sudut ruangan.
“Mimpi buruk luh??”, terjang teman satu kamarnya singkat.
Effendi tak menjawab, rohnya belum benar-benar kembali ke dalam tubuhnya. John sang narapidana yang satu kamar dengannya itu hanya terdiam tak mencoba untuk menagih jawaban dari pertanyaannya barusan.  Tak pula ia mencoba untuk merebahkan badannya ke tubuh kasur yang terlihat montok itu. Begitulah John selama di dalam penjara ia tak pernah tidur di sel yang telah ia diami selama satu tahun empat bulan. Ia tertidur hanya ketika ia berada di Mushola tahanan bukan untuk sholat karena John seorang katolik yang taat lekat dengan injil di tangan kanannya, melainkan mencari kenyamanan dan satu-satunya tempat yang nyaman di dalam penjara itu adalah Mushola. Baginya tidur di dalam sel berarti menerima keadaan, menerima jika ia di penjara dengan keadaan tidak bersalah. Terlihat Effendi sudah tenggelam lagi dalam tidurnya.
Pagi menjelang dan genap sudah dua bulan Effendi di dalam penjara. Dan seperti biasa para narapidana berkewajiban membersihkan setiap jengkal sudut-sudut penjara. Di pagi itu ada kabar bahwa narapidana baru akan datang hari ini. Kabar tersebut menjadi semacam infotaiment di sana, menyebar dengan kekuatan cahaya. Wajar, Karena narapidana yang terakhir kali masuk ke dalam penjara ini adalah Effendi, itu pun sudah dua bulan yang lalu. Mungkin narapidana pun butuh sesuatu yang baru, pikir Effendi dalam hati.
Matahari diam-diam sudah terlampau berani berdiri di tengah langit seorang diri tanpa kawanan awan liar yang menemani. Sudah waktunya bagi tawanan-tawanan Salemba ini untuk beristirahat mendulang kembali daya-daya yang telah terkuras tanpa makna. Effendi dan John juga sudah lama menemukan titik resolusi konflik diantara mereka hingga mereka selalu terlihat bersama. Hal itu terjadi karena biasa, ya mereka telah terbiasa berdua dan itu yang menyebabkan mereka bisa saling menerima. Selain itu John mulai mencair juga dikarenakan cerita Effendi tentang mimpinya yang bertemu dengan lelaki berkuda dengan jubah dan pedangnya, kemudian wanita berpenutup mata dengan timbangan serta pedang dimasing-masing sebelah tangannya. Bagi John kedua sosok itu merupakan simbol keadilan, seperti legenda dari negeri para dewa yang patung atau simbolnya berkeliaran di lembaga-lembaga keadilan di sana dan di seluruh penjuru eropa. Vatikan khususnya. Betapa takjubnya ia setelah mendengar cerita Effendi. Akan tetapi John tidak bilang apa pun kepada Effendi takut ia menjadi besar hati, merasa istimewa dan pada akhirnya ia simpan rapat-rapat semua hipotesa dan analisanya sambil terus pasang mata terhadap Effendi.
Pergerakan arus kantin siang itu cukup ramai lancar. Effendi dan John terlihat di meja yang sama ditemani beberapa narapidana lainnya. Pembicaraan mereka hampir sama dengan rata-rata yang dibicarakan oleh narapidana lain yaitu tentang narapidana baru yang akan masuk ke kawasan mereka, penjara. Ketika suasana sedang santai dan para narapidana istirahat sambil santap siang terlihat Galing penghuni sel 101 berbincang hangat dengan sipir penjara di WC samping kantin. Bahasa tubuh mereka hati-hati sekali, mata kedua orang berbeda status sosial itu liar mengawasi kalau-kalau ada yang melihat komunikasi horizontal mereka. Peristiwa berlangsung sangat cepat, sipir penjara dengan jelas memberikan suatu bungkusan kepada Galing. Galing yang merupakan seorang bupati terpidana kasus narkoba tergesa-gesa menyembunyikan bungkusan tersebut sambil terus berangsut ke dalam salah satu bilik WC. Pak Sipir kembali bertugas keliling area yang seluas satu buah lapangan sepakbola itu. Effendi yang melihat Galing belum juga keluar dari balik bilik WC spontan langsung mendekatinya. Sungguh terkejut ia menyaksikan Galing sedang menghisap serbuk-serbuk putih melalui hidungnya. Galing yang melihat kehadiran Effendi cuma berkata.
“Mau???”, ucapnya.
Effendi yang penuh emosi menyaksikan kejadian itu bergegas pergi ke kantor petugas berharap bisa menceritakan apa yang baru saja ia simak dengan mata dan kepala sendiri. Bahwa di dalam penjara ini ada modus operandi pengedaran narkoba oleh sang sipir. Melihat hal itu John berusaha mengurungkan niat Effendi. Karena baginya apa yang akan Effendi lakukan percuma saja. Hal yang barusan terlihat itu merupakan realita dari kehidupan penjara, dan itu bukan apa-apa. Satu setengah tahun sudah John menjadi saksi hidup seperti narapidana-narapidana lainnya yang seangkatan ataupun yang sudah lebih dulu tinggal disini. Betapa kehidupan di penjara sangat menjijikan dan jauh dari apa yang bisa dibayangkan. Seluruh elemen yang ada disini sama busuknya, dalam artian baik itu petugas maupaun narapidana sendiri sama kelakuan dan tingkah lakunya. Bahkan secara objektif analogis tentu petugaslah yang terlihat lebih busuk ketimbang para tahanan mengingat statusnya di masyarakat. Pernah suatu malam John melihat seorang wanita tuna susila sedang diantar oleh seorang sipir ke salah satu kamar tahanan yang satu blok dengan miliknya. Pernah juga nampak olehnya seorang copet habis dihajar oleh beberapa petugas disana, dan jangan lagi tanya keadaannya karena wajahnya yang penuh lebam bernanah secara lugu akan memberi penjelasan tentang itu semua.
Begitulah, sambil terus menenangkan Effendi, ia terus menjelaskan apa yang terjadi disini.  Dengan aroma wajah yang merah padam Effendi menahan segala bentuk penolakannya terhadap lapas ini. Kecewa, jelas. Tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi bahwa di sebuah lembaga pemasyarakatan atau penjara para narapidana bukan dididik untuk berbuat sesuatu yang lebih baik tapi justru disuapi dan didoktirn oleh berbagai kebusukan yang menyelimuti tatanan sistem yang merdeka, dan pelakunya ialah orang dalam sendiri. Di satu sisi narapidana disalah-salahi tapi di sisi lain narapidana tak boleh menyalahi, terima saja dan jangan banyak bicara.
Effendi dan John berada di sel mereka karena memang malam telah menjelang, begitu pula para narapidana lain telah kembali ke sel masing-masing. Sedangkan Effendi, di dalam kepalanya masih terus bertanya-tanya tentang kejadian siang tadi, John tetap pula setia menjelaskan kepada Effendi. Bergulat dengan pendapat mereka saat itu, tak ada yang benar tak ada pula yang salah dan mereka sama-sama paham akan hal itu. Di tengah perbincangan dan perdebatan mereka yang aktual, salah seorang sipir datang bersama seorang tahanan baru yang sedari tadi pagi menjadi perbincangan di seantero lapas ini. Wajah tahanan baru itu putih bersih tanpa ada kumis, cambang atau sehelai rambut pun di sekitaran dagunya. Rambutnya klimis tersusun rapi serta terlihat basah mungkin akibat gel yang ia selalu gunakan. Tatapannya pun sama sekali tidak mencerminkan seorang yang terkena tindak kriminal. Mereka berlalu begitu saja, sedangkan para tahanan yang melihat tahanan baru itu melintas di depan sel cuma terdiam sambil terus pasang mata.  
Keesokkan harinya ditengah aktivitas yang biasa dilakukan dalam penjara ini terlihat narapidana baru itu celingak-celinguk dan tak tahu harus berbuat apa, makanya sedari tadi ia cuma diam sambil memperhatikan. Tanpa komando dan tanpa ada undangan Effendi diam-diam mendekat lalu duduk di samping narapidana baru itu. “Hey! Effendi”,sambil menjulurkan tangannya. Dengan sedikit ragu-ragu tahanan baru itu menerima juluran tangan Effendi sambil menjawab, “Hai, Irawan”. Kemudian berbincanglah mereka mengenai apa pun yang bisa diperbincangkan. Tak lupa Effendi mengenalkan Irawan kepada John dan kepada para narapidana lain, serta membeberkan apa saja kebiasaan serta peraturan di tempat ini. Tanpa hitungan hari mereka pun menjadi sangat karib seperti teman lama yang sudah sangat lama tidak berjumpa muka. Banyak cerita yang saling dibagikan, salah satunya penyebab kenapa Irawan bisa sampai terdampar di bui ini. Ternyata eh ternyata, Irawan merupakan seorang aktivis. Ia ditangkap karena dituduh sebagai provokator dan dalang dari demonstrasi menuntut mundur presiden. Bagi Irawan dan kawan-kawan presiden telah gagal dalam menggerakkan roda kepemerintahan, dan tidak ada kata lain selain mundur! Dalam demonstrasinya, Irawan menjadi koordinator aksi. Segala macam tai dan babi hinggap diorasinya. Suasana semakin tak kondusif dan menjurus anarkis, hingga ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara dengan tuntutan yang tidak jelas.
Sekali lagi malam telah menyelimuti seluruh area kediaman mereka, dan seperti biasanya John tak juga tertidur dan tidak berharap untuk itu. Effendi hanya berputar-putar saja dengan apa yang ada di dalam kepalanya. Kepingan-kepingan serta ingatan-ingatan kecil tentang ketidakwajaran penjara ini tanpa sengaja melintas bebas di depan matanya lengkap sejak pertama kali ia masuk sampai kini ia terjaga. Bahkan memori-memori lain yang merupa persepsi dari berbagai sumber juga hadir meski hanya berbentuk hitam dan putih. Terbengong-bengong Effendi kala itu. Hingga tak tahu apa sebabnya, darahnya mendesir deras hingga ke ubun-ubun seakan mendidih seluruh cairan dalam tubuhnya. Lalu satu per satu tetes keringat meresap lekat ke dalam pakaiannya. Belum usai ia teraniaya, peristiwa mimpi aneh yang dialaminya menderu-deru begitu saru. Penampakan-penampakan liar dalam mimpinya kala itu kembali lagi, pria berkuda hitam lengkap dengan jubah sirah serta pedangnya yang cadas dengan begitu menyeramkan lari kencang ke arahnya lalu wanita transparan berpenutup mata yang telihat payudaranya mennyembul keluar dengan neraca dan pedang dimasing-masing tangannya melayang-layang seperti hantu gentayangan, seakan ada yang hendak mereka katakan, seakan ada yang hendak mereka tagih, bisik Effendi dalam hati.
Di ruangan lain Irawan telah terlelap, mungkin karena seharian telah dihajar habis-habisan oleh petugas atau mungkin karena sehari sebelumnya telah sekuat tenaga memberikan perlawanan terhadap kepemerintahan yang sekarang. Namun, bangunan kokoh di sekitar mereka tetap saja berdiri dengan segala rahasianya mesra dengan penjaga utamanya, malam.
Keesokan harinya satu pagi telah menunggu pertunjukkan mereka hari ini, panggung juga telah berkilauan bahkan terlalu cerah untuk mereka seorang amatir kehidupan. Tapi lagi-lagi kesibukan mereka masih saja seperti hari-hari lalu tanpa ada sedikit pun varian. Mau apa lagi? Otoritas memang terlalu jauh untuk orang-orang seperti mereka atau seperti orang kebanyakan. Hal itu mungkin penyebab setiap gerak dan langkah kita begitu menyeragam.
Pada moment ini seluruh penghuni bui sedang menikmati satu-satunya kemerdekaan dalam masa penghukuman mereka yaitu istirahat. Tampak Irawan tanpa komando langsung bergabung dengan Effendi dan John di meja paling sudut kantin tersebut. Muka penghuni baru ini lebih cerah dan segar dibandingkan pertama kali mereka bertemu, kemarin tepatnya. Mungkin karena semalam aktivis ini terlalu lelap dalam merespon kedatangan malam dan menerima kenyataan. Lalu tanpa ada pembukaan secara resmi perbincangan mereka dimulai dari satu sisi ke sisi lainnya, dari A sampai Z, dari angka satu hingga ke angka satu lagi gerak jarum detik pada jam dinding di sana. Dengan tenang Effendi melontarkan pernyataan yang secara tidak langsung merupakan sebuah keseimpulan, “Ada yang gak beres di sini…”. Teman-temannya sesama penghuni bui ini pun terdiam, pun meski mereka bergerak juga seolah-olah sedang dalam slow motion. Kaget mereka tentu saja, atau lebih tepatnya heran. Heran dengan sekalimat yang diucapkan Effendi. Setan apa yang merasukinya, pikir mereka. Namun Effendi lantas melanjutkan kalimatnya, “Aku akan membongkar kebusukan penjara ini ke khalayak umum….” Tercenganglah mereka semua mendengar ucapan itu, tak habis pikir dan sudah pasti tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan saja. Ingin mereka menyela takut Effendi tersinggung dan kecewa karena tak ada tanda-tanda guyonan dalam raut mukanya.
Suasana hening sejenak, semuanya terdiam. Effendi lantas menceritakan sebab-sebab kenapa ia mempunyai niatan seperti itu. Berawal dari ketidakadilan yang dialami dirinya sampai masuk ke dalam penjara beberapa bulan lalu. Baginya vonis yang dialamatkan kepada dirinya benar-benar nonsense dan tidak masuk akal. Ia sama sekali tidak pernah melakukan tindak kejahatan atau kriminal apapun. Berita acara mengenai dirinya yang masuk ke dalam ruang administrasi penegak hukum juga dinilai sarat akan manipulasi dan kongsi-kongsi. Karena ia tahu betul bosnya itu tak lebih dari lintah darat. Namun satu yang pasti, ia masih belum tahu kenapa bosnya sampai tega melakukan semua ini kepadanya.
Dalam alur yang ia lewati bermula dari kepolisian hingga ke pengadilan tinggi negeri, ia cuma bisa mengambil kesimpulan, dan kesimpulan itulah yang ia pendam sampai sekarang meski teramat geram. Bagaimana praktek-praktek penipuan, jual-beli pasal dipertontonkan di depan kedua matanya. Dalam hati ia mengutuk mereka semua. Tapi apa daya? Effendi bukan orang penting dalam alam ini. Suaranya tidak berarti apa-apa kini, tak seperti saat-saat pemilu dimana suaranya begitu dihasratkan oleh setiap Homo Polyticus abad ke-19 Masehi di negeri tercinta Indonesia.
Amarah Effendi kian menjadi-jadi ketika tahu bahwa John teman satu kamarnya merupakan korban salah tangkap aparat kepolisian. Setelah ia selidiki sendiri ternyata petugas ada main dengan salah satu gank di ibukota, gank tersebut cupu bukan main. Layaknya bertemu dengan leluhur, anggota gank ini rajin sekali membawa “sesajen” untuk para petugas di area mereka. Sedangkan John merupakan pentolan dari gank yang selalu ribut bebuyutan dengan gank picik ini. Mereka pun berhasil menggenggam kawasannya bersamaan dengan dikurungnya John preman paling disegani seibu-kota. Pantas rasanya jika John sama sekali tidak pernah menerima penangkapan dirinya. Sebenarnya bisa saja ia menyuruh anak buahnya untuk melakukan penyerangan ke tempatnya ditahan, tapi tidak dilakukan karena ia masih menghormati hukum. Hukum adalah anasir yang sudah tepat di kehidupan bermasyarakat, tak ada yang salah dengan hukum hanya orang-orang yang ada di dalamnya sajalah yang keterlaluan picisan. Dan masih menurutnya, orang-orang itu ialah kita semua.
Lalu, beberapa waktu setelah secara aklamatif John menceritakan kisah kesalah-tangkapan yang dialaminya. Terjadi pula peristiwa yang semakin menjengkelkan sekaligus memilukkan bagi Effendi, hanya selang beberapa hari. Dimana ia dapati dari informasi-informasi yang berhembus bahwa salah seorang tahanan tewas sesaat menuju Rumah Sakit, Gopir namanya. Gopir ditangkap karena telibat dalam penyerangan kantor polisi. Seperti macan yang melihat daging segar habislah Gopir di ruang tahanan. Disiksa, dianiaya sedemikian tidak manusiawinya hingga dua minggu kemudian terbentuklah peristiwa naas itu, Gopir tewas. Padahal jika merunut ke belakang, peristiwa penyerangan kantor polisi tidak akan terjadi jika saja pihak kepolisian berani bertindak tegas kepada anggotanya yang melakukan pelecehan seksual terhadap remaja putri di lingkungan tempat tinggal Gopir. Namun apa mau dikata nasi sudah mejadi bubur, publik sudah  naik pitam dan Effendi bepikir kalau sudah tidak ada lagi pentingnya keberadaan polisi bagi kehidupannya, bagi kehidupan kita semua. Juga Pengadilan, juga Mahkamah Agung atau Konstitusi, juga Departemen Hukum dan HAM.
Lalu Effendi mulai menceritakan mimpi-mimpi anehnya kepada John dan Irawan yang sedari tadi masih menyimak dengan begitu saksama sampai pada akhirnya Irawan angkat bicara, “Terus apa yang akan Mas lakukan?”.
“Tenang aku sudah punya rencana, kalian cukup lihat saja”, jawab Effendi dengan sangat lugas. John dan Effendi cuma terdiam.
Kemudian pagi ini sudut-sudut langit cerah cemerlang, burung gereja selalu bermain-main mendekati lingkungan kita dan masih dalam suasana minggu-minggu pertama awal bulan di penjara. Seperti biasa, setiap awal bulan Ana sang istri tercinta selalu datang menjenguk Effendi beserta pula ketiga anaknya yang terbilang masih cukup kecil, paling besar baru menginjak kelas 5 SD, yang kedua kelas 1 SD dan yang bontot masih dalam dekapan ibunya. Ada hawa rindu dalam tatapan mereka. Wajar, terakhir kali mereka datang menjenguk Effendi yakni dua bulan lalu. Betapa romantisme sekejap hadir dalam ruang sempit tersebut. Mereka saling melempar kisah, kisah-kisah perkembangan anak-anaknya, kisah-kisah sanak saudara yang lain, kisah-kisah tetangga mereka, dan tentu kisah-kisah kegalauan nelangsa yang dialami seorang Ana, seorang istri dengan ketiga anaknya. O, betapa moment itu menjadi detik-detik yang mengharukan.
Di penghujung pertemuan singkat keluarga harmonis itu Effendi lantas memberikan sesuatu kepada Ana, “Tolong berikan surat ini kepada Jafar”. Dengan diam sang istri dan ketiga anaknya lantas berangsut menyamar dan menghilang di balik tembok-tembok penjara. Tanpa sadar tetes-tetes air mata jatuh basahi pipi dan mengalir terus ke jenggot Effendi yang jarang. Ada sebuah kesedihan dalam jiwanya karena sekali lagi harus berpisah dengan istri tercinta, namun di relung jiwa satunya lagi bercokollah sekelumit harapan akan sebuah pembedaan akan nasibnya yang kini menggantung. Harapan itu tertumpu pada surat yang ia tulis dan kepada Jafar sahabatnya.

==OOO==

Beberapa tahun menjelang terlihat Effendi dengan stelan parlentenya sedang berdiri di trotoar jalan sambil berbicara menggunakan telepon genggamnya dan sesekali melihat ke arah jam tangannya, seakan ia sedang mengejar sesuatu. Tak jelas apa yang dibicarakan dan kepada siapa. Tiba-tiba saja ia memberi tanda kepada sebuah bajaj tak berpenumpang untuk segera berhenti, dan meluncurlah mereka ke arah Sudirman. Di sana, di lobby sebuah gedung berlantai 170 Effendi sudah ditunggu oleh Irawan. Mereka langsung saja masuk dan naik lift ke lantai 78. Terdapat sebuah ruangan berpendingin dan ternyata mereka telah ditunggu oleh sekelompok orang yang sedari tadi duduk melingkar seperti meja yang berada di hadapan mereka. Pakaian mereka tak kalah berkilau dengan yang digunakan Effendi. Baru saja melangkahkan kaki ke ruangan tersebut orang-orang itu berdiri sambil mengucapkan “Selamat pagi pak!”, Effendi pun menjawab “Selamat pagi semua, silahkan…silahkan… duduk kembali.” Tak lama Effendi langsung melanjutkan kata-katanya barusan, “Ok…..Mari kita mulai saja rapat hari ini.”
Semua yang ada dalam ruangan itu dengan sangat hati-hati terus memperhatikan apa yang diucapkan Effendi, terlihat juga Irawan duduk persis di samping Effendi. Masing-masing dari mereka menggunakan name tag bertuliskan Muara Warta.inc. Ya, Muara Warta ialah sebuah perusahaan pertelevisian sekaligus kepanjangan tangan dari perusahaan penerbitan yang digagas oleh Effendi. Perusahaan ini semakian berkembang setiap harinya. Ada perbedaan mendasar antara perusahaan ini dengan perusahaan lain yakni tak satu pun iklan produk komersial atau iklan-iklan lain yang money atau political oriented bisa masuk ke dunia broadcast perusahaan baru ini. Selain itu antara pertelevisian dan penerbitan ternyata bisa saling mengisi satu dengan yang lainnya dalam hal materi tentu saja. Satu yang harus di garis bawahi dan sudah menjadi slogan dalam perusahaan ini ialah “Hukumlah Hukum atau Adili Keadilan”. Oleh karenanya jangan harap ada berita-berita atau literatur-literatur popular disini. Semua murni bersifat kritis bahkan menjurus subversif terhadap kinerja pemerintah secara umum dan hukum secara khusus.
Lalu di tempat lain John sedang bergulat dengan mesin fax karena Jafar atasannya meminta ia untuk mengirim surat balasan kepada Menkominfo terkait masalah rancangan undang-undang. Mereka berdua berada dalam satu atap di surat kabar Suara. Jafar sendiri ialah orang yang paling berjasa dalam merubah kehidupan tiga kawanan kriminal John, Irawan, Effendi serta dunia peradilan dalam negeri. Ya, Jafar lah orang yang dikirimi surat oleh Effendi beberapa tahun lalu. Jafar merupakan pendiri surat kabar Suara, salah satu surat kabar yang cukup popular dan cukup punya nama. Mungkin karena alasan itulah Effendi tak berpikir dua kali untuk mengirim surat kepadanya, apalagi terkait masalah kebobrokan lembaga pemerintahan. Karena ia tahu betul bahwa Jafar adalah seorang yang cukup punya prinsip mengenai kebenaran dan keberimbangan. Gayung pun bersambut, surat-surat Effendi langsung cetak-terbit oleh Suara. Dalam waktu singkat saja masalah ini telah membahana ke seluruh pelosok negeri dari berita-berita di televisi, surat kabar, hingga internet tak luput dari permasalahan ini bahkan situs-situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter pun tak luput dari isu ini. 
Di ruangannya Jafar melamun, tak seperti biasa jemarinya lekat dan fasih  sekali memain-mainkan pulpen yang ada di meja kerjanya. Sambil sesekali melirik ke arah surat yang dikirim Effendi. John yang tiba-tiba masuk ke ruangannya untuk memberitahukan jikalau orang Menkominfo telah datang sekonyong-konyong heran dengan tingkah-polah Jafar yang hanya melamun. “Mas, orang Menkominfo udah dateng tuh..”, ucap John perlahan. “Mas…. Mas Jafar…”, lanjut John mendesak berharap memecah lamunan Jafar.
Jafar masih terdiam. Lalu perlahan mulai membuka mulutnya,“…Hebat betul Effendi, hebat betul nyawa dalam surat ini. Karenanya publik bisa memainkan hakimnya sendiri dengan pengadilannya yang tersendiri pula. Karenanya hukum bisa benar-benar menjadi hukum dan keadilan bisa benar-benar adil. Karenanya pengadilan dan kepolisian dibubarkan. Hebat betul…”.
John makin tidak mengerti dengan gelagat atasannya itu “Memang apa isi surat Effendi itu Mas?”, Tanya John penasaran.
”Itu suratnya ada di meja kerjaku”, Jawab Ja’far.
Tergegas John secepat kilat menyambar surat yang tergeletak diam tersebut. Ia perhatikan dengan teliti setiap sudutnya, ia bolak-balik surat tersebut, ia raba dengan hati-hati kertas di dalamnya, sesekali ia terawang ke dalam gumpalan cahaya disekitarnya, namun kemudian ia hanya bergumam, “Surat ini kosong”.








Bersambung…
Share

Kamis, 17 Maret 2011

Cinta

Gerimis itu tidak terbendung, langit tidak lagi bisa menahan beban yang ditimpakan kepadanya. Awan-awan hitam mulai datang padahal tidak ada yang mengundang, tak berapa lama hujan pun turun sejadi-jadinya, meski waktu menunjukkan pukul 2 siang tapi seakan sudah petang menjelang malam.

Roswana duduk dengan tenang di sebuah halte di daerah buaran, suara Alicia Keys berkumandang dari playlist handphone baru miliknya yang dibeli dari toko anugrah celular di kawasan mangga dua. Pikirannya melayang seketika itu juga terhipnotis oleh lagu yang menelanjangi telinganya, terkondisikan oleh suasana hatinya. Cuplikan-cuplikan peristiwa terbersit dalam kepalanya yang untuk sementara menghilangkan kesadarannya. "Bajingan....Bajingan.....!!" Bisiknya dalam hati. "Seharusnya aku tidak mempercayainya..." Isak tangis pun muncul berpadu dengan hujan deras siang itu. "Telahku berikan segalanya... Telahku berikan semuanya... Telahku berikan mahkota kebangganku pada dirinya... Telahku berikan kehormatan kewanitaanku pada dirinya... Tapi dia menghianatinya....." Lirihnya dalam hati.

Suara ribut-ribut pedagang kaki lima dan petugas Satpol PP pun memecah semua bayangannya.
Waktu menunjukkan pukul 3 sore, sudah satu jam Roswana terdiam di halte itu. Ia melihat sepasang kekasih penuh kemesraan disebelahnya, ia terus menatap dengan sinisnya. Kemudian bus yang ditunggu pun akhirnya datang berhenti dihadapannya, tanpa disuruh ia langsung masuk ke dalam bus menuju kursi kosong bagian kiri yang berpapasan langsung dengan jendela angkutan kota tersebut. Pemandangan di luar terlihat jelas dari posisi yang ia tempati. Sepasang kekasih yang dilihatnya masih ada disana, mesra dan belum beranjak. "Korban berikutnya......" Gumamnya dalam hati sambil melihat sepasang kekasih itu.
Share

Elegi Anak Zaman

Wajahnya kusam karena tersengat langsung cahaya matahari. Nafasnya terengah-engah dan tak jarang peluh menetes dari dahi dan sela-sela telinganya. Matanya terlihat dalam dan tajam mengawasi setiap titik yang menarik perhatiannya. Dengan sendal jepit kumal derap langkahnya sangat pasti dan meyakinkan meski yang ia lewati tanah merah basah bekas hujan semalam. Rumput dan ilalang saban hari menggodanya disebuah lapangan di kawasan pamulang. Sebatang pengait besi buatan setia di tangan sebelah kanan ditemani satu karung bulat yang dipapah di punggung kecilnya. Setiap hari ia menghabiskan jarak berpuluh-puluh kilo dalam satu kali perjalanan, padahal usianya belum genap 10 tahun. Usia yang seharusnya mendapatkan dasar-dasar pendidikan yang kita ciptakan dengan kebohongan dan ketidakadilan. Tapi tetap saja ia tidak mempedulikannya, kaki kecil itu terus melangkah ke arah masa depan.

Menjelang malam ia tiba di rumah reot yang terbuat dari kayu-kayu usang bekas sebuah bangunan. Rumah tersebut terletak di kaki sutet simbol pembangunan, hanya sepetakan 2x3 dan diisi oleh tiga kepala keluarga dan salah satu anggota keluarganya adalah dia.
"Kau sudah pulang raihan?? Makanlah dulu... Kau belum makan seharian bukan???" Sambut ibunya dengan pertanyaan.
"Baik mak, aku memang belum makan.." Jawabnya sambil melahap sepiring nasi aking dan sebiji kerupuk.
"Bagaimana hari ini?? Dapat berapa???" Sahut ibunya.
"Lumayan mak, dapat sekarung penuh." Jawabnya sambil terus melahap makanan yang ada dihadapannya.
"Baguslah.... nanti kalau sudah makan, lekaslah tidur! Besok pagi-pagi sekali kau sudah harus mulai memulung lagi. Bapakmu sudah tiga minggu sakit-sakitan." Ujarnya tanpa ekspresi.
"Baik mak." Suara raihan datar, sebelum berada diatas kasur tipis rombeng.

Pagi-pagi sekali berbarengan dengan dimulainya aktifitas di pasar cimanggis kawasan ciputat, raihan sudah bergelut dengan sampah-sampah non-organik. Dia sangat teliti mengawasi setiap jengkal tempat-tempat yang tersembunyi. Sampai tak terasa matahari telah meninggi di wilayah indonesia bagian barat. Sekolah-sekolah pun secara sistematik mengusir murid-muridnya untuk pulang ke rumah. Dan tak lama dalam perjalanannya, ia tiba di depan sebuah SD yang sedang ramai oleh kepulangan murid-muridnya, ia sempat terhenti sejenak memperhatikan anak-anak sebayanya. Lalu seorang laki-laki dewasa berseragam cokelat, yang ternyata seorang guru datang mendekatinya.
"Kau mau kemana?? Tidak pulang ke rumah??" Katanya sambil terheran-heran.
"Sebentar lagi juga saya pulang, saya cuma kebetulan lewat pak.." Jawab raihan.
"Kau tidak sekolah??" Tanya guru itu.
"Tidak pak." Singkat raihan tanpa penjelasan. Tapi sebelum guru itu kembali bertanya bocah itu meneruskan ucapannya.
"Jika jalan ini yang harus saya tempuh. Bapak cukup memperhatikan saja dan tunggulah saya di ujung jalan. Kelak saya akan tiba juga disana." Lalu raihan pun pergi membelakangi guru itu yang masih terbengong-bengong dan terus saja berlalu menlanjutkan perjalanannya.
Share

Mak

"Mak, nasi uduk satu mak..". Ucap Entong sambil terus melihat-lihat gorengan dan semur jengkol di etalase yang menambah nafsu makannya malam itu.
"Bungkus apa makan disini tong??". Tanya mak.
"Makan disini aja mak, biasa...". Jawab entong.
Lalu entong pun melahap sepiring nasi uduk itu dengan diawali menyeruput teh tawar hangat yang disediakan untuknya. Dalam beberapa saat tidak ada percakapan antara keduanya di kedai nasi uduk yang terletak persis di depan pom bensin itu. Hening, yang terdengar hanya suara entong yang mengunyah krupuk dan sesekali suara sendoknya yang beradu dengan piring bermotif bunga. Mak juga diam saja, tak seperti biasanya melamun ke arah jalan yang menghubungkan Parung-Ciputat. Lamunannya buyar hanya ketika dia melayani pelanggannya yang memesan nasi uduk, setelah itu mak akan melanjutkan kembali lamunannya. Entong yang sedari tadi telah selesai makan dan sedang menikmati sebatang rokok ketengan heran melihat mak.
"Mak, kenapa mak?? Dari tadi saya liatin bengong aj, lagi mikirin apaan emangnya??" Tanya entong penasaran.
"Ahh, enggak apa-apa tong. Mak cuma lagi pusing aja." Jawab mak kepada entong yang sebenarnya tidak menjawab apa-apa bagi entong. Entong pun terus mengejarnya dengan kembali bertanya. "Keliatan mak, dari mukanya kalo lagi ada masalah. Apalagi udah pusing gitu! Berarti bener ada masalah kan??".
"Emang keliatan yak??" Tanya mak sambil melempar sebuah senyuman.
"Keliatan mak...." Jawab entong singkat.
Lalu dengan wajah seperti menyerah dan samnbil menghela nafas dalam-dalam mak pun membuka suara, "Gini tong, jadi kemaren abang mak dateng ngasih tahu kalo ada yang mau nikah sama mak. Abang mak yang laen sama mpok-mpok mak juga nyuruh terima aja dari pada jualan nadi uduk terus katanya, dari pada susah terus. Emang sih mak udah jualan nasi uduk 10 tahun, udah kelamaan. Tapi enggak apa-apa, biar begini juga si Adi (Adi adalah anak bungsu mak dari dua anaknya.Yang tertua sudah menikah dan tinggal di daerah semper) bisa sekolah, sekarang udah kelas 2 SMP. Emak udah nolak, si adi juga udah mak ceritain. Terus katanya ''Jangan mau nikah lagi mak!! Biarin miskin begini dari pada mak mesti balik lagi ke agama mak yang dulu. Murtad itu namanya mak! Adi enggak setuju!! Mpok juga kalo tahu enggak bakalan setuju.'' Gitu....
Emak cuma jadi enggak enak sama Abang-abang mak. Tapi juga enggak habis pikir sama jawaban anak emak yang bontot itu." Cerita mak seorang janda keturunan Tiong Hoa beranak dua yang ditinggal mati suaminya kepada entong.
Sekarang giliran entong yang hanya terdiam sambil terus menghisap rokoknya.
Share

Taman (Makam) Pahlawan

Disebuah alun-alun taman kota, berkumpullah orang-orang sambil bercengkrama satu sama lainnya. Ditemani riak-riak air mancur yang muncrat dari tengah taman, suara-suara burung kecil yang beradu di atas pohon-pohon cemara, wanita-wanita transparan yang berlalu lalang serta anggur yang tiada duanya di dunia memenuhi cawan-cawan di meja sekitar taman. Lalu terlihat wajah-wajah yang beraneka ragam diantara kerumunan orang-orang disana. Tak berapa jauh dari alun-alun taman kota, tepatnya disebuah lapangan terlihat dua orang sedang menghadap ke arah tiang bendera sambil terus mengambil sikap hormat. Keduanya sangat khusyuk tanpa bicara sepatah kata pun. Seorang diantaranya menggunakan stelan safari dan seorang lagi menggunakan kemeja lengkap dengan jas serta kopiah di kepalanya. Mereka bedua ternyata Bung Karno dan Bung Hatta. Sudah cukup lama mereka disana berdiri sambil hormat menghadap tiang bendera yang tak terdapat lagi benderanya. Kemudian disaat yang sama terlihat sebuah pesawat tempur sedang melayang-layang di udara, tanpa ragu pesawat itu menggerayangi setiap sudut langit saat itu. Entah apa tujuannya, padahal sudah lama pesawat itu tidak pernah diterbangkan dan telah diabadikan di lanud halim perdana kusuma. Setelah sekian lama, barulah orang-orang tahu kalau penerbang pesawat itu ialah Ir. Juanda. Dan diantara kerumunan orang-orang di bawah, Bung Tomo dan Jendral Soedirman bertepuk tangan kegirangan melihat atraksi-atraksi pesawat tempur itu. Seorang anak kecil yang sedang bermain sepeda fixienya, karena melihat ke arah langit-langit penasaran dengan keberadaan pesawat tersebut jatuh tersungkur di trotoar jalan. Bocah itu pun menangis tersedu-sedu. Lalu seorang wanita berkebaya membantu anak kecil itu, wanita itu menyeka air mata serta mengobati luka-luka yang ada di tubuh anak kecil itu. Kemudian setibanya di rumah, bocah itu menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada ibunya. Lalu ibunya berkata, "Oo... Kamu barusan telah diobati sama ibu fatmawati nak. Sudah...tidak apa-apa, lukamu pasti lekas sembuh.".
  Menjelang sore terdengarlah kumandang adzan disebuah masjid yang di sampingnya berdiri sebuah gereja, wihara, kuil dan di belakanganya berdiri sebuah klenteng kecil. Suara adzan itu padat, dalam sekali makna yang terkandung dari suara adzan itu hingga menyentuh hati yang mendengarnya. Ternyata itu suara W. S Rendra. Tak berapa lama. mulailah orang-orang berdatangan ke masjid. Gusdur yang baru saja selesai baca koran sembari minum teh terlihat datang ke masjid. Sholat Ashar berjama'ah pun dimulai dengan H. Agus Salim sebagi imamnya.
  Di tempat lain, tujuh jendral beserta keluarganya sedang berada di pinggir kolam, kolam itu dahulu bekas kolam buaya. Mereka sedang menikmati suasana sore hari disana. Seorang gadis kecil, anak dari salah satu jendral pergi bermain terlalu jauh. Ibunya yang sadar akan kehilangan anaknya kemudian mencari lalu mengejarnya, "Kamu jangan main jauh-jauh ade irma.... disini saja.". Ucap ibunya mengingatkan.
  Di pinggir jalan Tan Malaka, Sultan Hasanudin, Teuku Umar dan Pattimura sedang joging disore hari. Biji-biji peluh menetes dari badannya, mereka berempat singgah disebuah warung untuk istirahat dan minum. "Skak....!!!!!". Tiba-tiba suara seseorang yang sedang main catur mengaggetkan mereka. Orang-orang alim, menggunakan sorban, gamis serta kain sarung lokal ini sedang bermain catur di atas sawung bambu. Setelah dicermati kedua orang itu ialah KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hayim Asy'ari. Televisi yang terus melototi mereka dengan berita-beritanya tak mereka indahkan. Cuma orang disebelahnya yang selalu tertawa melihat acara di tv itu, Mbah Surip namanya. Di tangan kanannya melekat sebatang rokok dan di tangan kirinya tersedia secangkir kopi. Belum sempat ia menyeruput kopi itu, datang seorang pengamen,"......Aku tahu ku tak kan bisa menjadi seperti yang engkau minta.....". Belum habis lagu tersebut dinyanyikan mbah surip menangis terharu karena ternyata dia adalah penggemar Chrisye, pengamen yang menyanyi di depannya. Berbincanglah mereka seperti dua orang saudara yang baru berjumpa. Banyak sekali yang mereka bicarakan dari eksklusifnya TIM sampai perkembangan musik di tanah air.
  Tak jauh dari tempat itu Dono, Kasino, Benyamin serta Timbul sedang main kartu dengan asyiknya. Dalam permainan itu timbul selalu kalah karena dicurangi oleh dono, kasino, serta benyamin. Tapi seperti biasa timbul cuma nyengar-nyengir dengan senyum khasnya.
  Kembali ke lapangan, bung karno dan bung hatta tampaknya telah selesai dengan ritual mereka. Mereka kembali ke rumah masing-masing. Akan tetapi di tengah perjalanan bung hatta melihat seseorang berdiri di atas mimbar di tengah jalan. Orang itu tidak bersuara, hanya ada raut muka kecut di wajahnya. Sudah berkali-kali busway yang lewat terpaksa menghindar, karena ia berdiri tepat di atas perlintasan busway. Aroma busuk dari kali yang menghitam di samping jalan juga tak dihiraukannya. Pedagang kaki lima berserakan disekitarnya. Lalu bung hatta mendekatinya, "Maaf, pak. Bapak sedang apa di tengah-tengah lampu merah ini??". Orang itu cuma menoleh sejenak ke arah bung hatta tanpa bersuara. "Lho? Pak Ali Sadikin?! Kenapa berdiam diri ditempat ini?? Ayo mampir ke rumah saya tak jauh dari sini pak...". Ucap bung hatta denga keterkejutannya. Tapi ali sadikin tetap tidak bersuara.
  Disaat yang sama bung karno mampir ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang ia pinjam. Disana ia melihat Munir dan Marsinah yang sedang serius berbincang, entah masalah apa. Bung karno tapi langsung pergi karena ia sudah janji dengan istrinya untuk segera pulang. Saat bung karno beranjak pulang, Buya Hamka dan Sutan Takdir Alisyahbana baru saja datang di perpustakaan itu, disusul kemudian oleh Chairil Anwar yang rambutnya telah memanjang dan diikat ke belakang.
  Waktu sekarang menunjukkan pukul 8 malam. Wilayah senayan saat ini sedang ramai-ramainya karena ada pertandingan final sepakbola antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung. Di tengah-tengah ribuan penonton terlihat Fan Tek Fong dan Yakob Sihasale juga ikut hadir untuk menonton laga klasik itu. Sedangkan di kelas VIP Maladi dan Soeratin sedang anteng menonton pertandingan itu. Sesekali mereka berbincang mengenai sepakbola indonesia kedepannya seperti apa.
  Lalu ditempat lain Raden Patah sedang termenung seorang diri di puncak Monas. Kadang ia berpindah ke atap gedung DPR, ke atap Istana Negara, kadang pula ia hanya berputar-putar di atas langit Taman Mini. Hanya itu yang ia lakukan selama ini. Keesokan harinya Hayam Wuruk melihatnya terlelap di atas jembatan semanggi. Padahal banyak yang sedang demonstrasi menuntut percepatan penegakan HAM di bawah jembatan itu. Mungkin itu pula yang dibicarakan Munir di perpustakaan, karena ia hadir bersama Marsinah, Rustomo, Sumiarsih, Sugeng serta tak lupa elemen-elemen dari Mahasiswa. Tampak di tengah-tengah seragam polisi, seragam jaksa, seragam hakim serta UUD yang dibakar, Wawan mahasiswa Atma Jaya sedang berorasi. Sigit anak YAI serta Muzammil anak UI juga hadir dalam demonstrasi tersebut. Hayam Wuruk yang segera membangunkan Raden Patah lalu lekas pergi dari tempat itu menuju alun-alun taman kota, karena takut dianggap pelaku intelektual.
  Sementara itu Gajah Mada dan Tutwuri Handayani pergi ke sekolah-sekolah untuk sekedar melihat aktifitas disana. Mereka sungguh kaget karena para murid SMA kerjanya cuma di kantin sambil merokok atau di depan gerbang sekolah bergandengan tangan siswa/i-nya. Mereka pun cuma bisa menggelengkan kepala. Belum lagi ketika mereka berdua pergi ke kampus-kampus , yang ada cuma anak-anak muda yang suka nongkrong tanpa tahu harus berbuat apa. Tak berapa lama ada seorang warga yang lari ketakutan, dengan serta merta gajah mada dan tutwuri handayani menghentikannya lalu menguak informasi apa gerangan yang terjadi dari orang itu. Lalu orang itu bercerita dengan terburu-buru bahwa ada keributan melibatkan warga Keramat Sentiong dengan warga Tanah Tinggi. Beritanya sudah tersiar di tv-tv nasional. Penyebab keributan cuma karena salah satu kelompok warga kalah main futsal lalu tidak terima. Keributan begitu brutalnya sampai terlihat seperti medan perang. Mobil serta kendaraan bermotor lainnya tak luput dari amuk warga. Pangeran Diponegoro yang sedang makan di Warteg sehabis belanja di Pasar Senen karena melihat berita tersebut dengan seketika muncul di tengah keributan. Kedua kelompok warga yang bertikai tersebut tidak menghiraukannya. Mereka terus saja saling lempar meski pangeran diponegoro berada di tengah-tengah mereka. Lalu pangeran diponegoro yang tak sabar akhirnya memukulkan telapak tangannya ke atas aspal yang ia berdiri di atasnya. Sontak, kedua kelompok warga itupun mental seperti ditiup angin kencang. Api yang berasal dari barang-barang yang terbakar pun padam saat itu juga. Dua kelompok warga itu ketakutan. Tak lama pangeran diponegoro berteriak, "Jika kalian tidak berhenti dan segera saling memaafkan maka tempat ini akan aku ratakan dengan tanah!! Ini sumpah ku Diponegoro!!!". Tanpa dikomando kedua kelompok warga ini berangsur-angsur berbaur satu dengan lainnya. Ada yang bersalaman ada pula yang berpelukan sambil meneteskan air mata. Seorang warga yang ingin mengucapkan terima kasih kepada diponegoro harus gigit jari, karena pengeran diponegoro telah menghilang dari tempat iru menuju alun-alun taman kota. Gajah mada dan tutwuri handayani yang melihat peristiwa itu juga menyusulnya menuju alun-alun taman kota.
  Dialun-alun taman kota, berkumpullah orang-orang sambil bercengkrama satu sama lainnya. Ditemani riak-riak air mancur yang muncrat dari tengah taman, suara-suara burung kecil yang beradu di atas pohon-pohon cemara, wanita-wanita transparan yang berlalu lalang serta anggur yang tiada duanya di dunia memenuhi cawan-cawan di meja sekitar taman. Lalu terlihat wajah-wajah yang beraneka ragam diantara kerumunan orang-orang disana.







[ Maaf jika ada kesamaan nama pelaku serta tempat kejadian karena hal ini hanya suatu kesengajaan yang benar-benar disengaja. Semoga mereka semua yang disebutkan dalam narasi fiksi di atas menjadi pahlawan seseungguhnya -setidaknya- dalam hati sang penulis. Amiin..] Share